RANTAI PASOK

 

 

Ir. Mochammad Natsir, M. Sc.
Kepala Pusat Pembinaan Sumber Daya Investasi,
Badan Pembinaan Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum.
Dalam Pembukaan Work Shop Rantai Pasok Material dan Peralatan Konstruksi di Hotel.Savoy Homann,Bandung pada tanggal :  6 Maret 2012 
Menjelaskan bahwa :
Pengelolaan sistem rantai pasok material dan peralatan konstruksi difokuskan pada material
dan peralatan major yang penyediaannya sangat tergantung pada industri konstruksi dan
ketersediaannya sangat berpengaruh pada proses konstruksi.
Keseimbangan supply dan demand material dan peralatan konstruksi dapat terjadi apabila ada
kerjasama yang sinergis antara pembina konstruksi, pengguna dan pemasok material dan
peralatan kostruksi.Para pelaku industri yang memasok material dan peralatan konstruksi
hanya dapat mengembangkan kapasitas produksinya apabila para pengguna menginformasikan
kebutuhannya dan merumuskan program penggunaannya dalam jangka waktu sekurangkurangnya
5 tahun ke depan.Dalam hal ini, para pembina konstruksi berperan strategis dalam
menjembatani kepentingan pemasok dan pengguna material konstruksi dalam rangka
pengembangan industri konstruksi nasional, peningkatan daya saing konstruksi nasional, dan
penjaminan terhadap keamanan investasi konstruksi yang mencakup infrastruktur dan
bangunan gedung.
Analisis supply-demand merupakan bagian yang melekat pada pengelolaan rantai pasok
konstruksi. Berdasarkan hasil analisis, kapasitas industri semen nasional harus segera
dikembangkan sedangkan kapasitas industri baja masih mencukupi untuk memenuhi
kebutuhan konstruksi dalam 3–5 tahun ke depan. Pasokan aspal untuk mendukung
penyelenggaraan jaringan jalan sudah dalam keadaan kritis, sehingga potensi aspal alam di
Buton perlu segera dikembangkan agar tidak tersandera oleh pasokan aspal impor.
Industri alat berat nasional sudah berkembang dengan baik tetapi tetap memerlukan dukungan
dari pemerintah berupa perlindungan dari invasi pasar asing dan informasi kebutuhan alat
berat untuk mendukung investasi di sektor konstruksi baik yang dilaksanakan pemerintah
maupun swasta. Jumlah alat berat yang beroperasi di lapangan perlu dipantau dengan baik.
Penggunaan teknologi GPS dapat dimanfaatkan untuk keperluan pemantauan ini. Dengan
demikian, para pelaku industri dapat membaca tingkat keseimbangan sistem supply-demand
alat berat dalam rangka pengembangan kapasitas industrinya.
(administrator infoala)